Learn To Earn Is The Reason Why I am Blogging
Budaya Kupat, Lebaran Ketupat Dan Kuliner
Kupat sama saja dengan Ketupat, hanya persoalan penyebutannya saja yang berbeda, tapi esensinya sama; anyaman janur kuning berisi nasi padat yang dihidangkan dan dijadikan simbol terutama pada saat lebaran Idul Fitri. Bahkan pada tradisi budaya masyarakat tertentu, ada tradisi dan Budaya Lebaran Ketupat di hari ke tujuh Idul Fitri. Kupat sering dibedah dengan Ngaku-Lepat, Mengaku Salah dan oleh karenanya memohon agar kesalahan itu bisa dimaafkan, persis seperti yang menjadi esensi Idul Fitri sebagai terbebas dari dosa.
Ini berbeda dengan Kuliner yang bisa dibedah diotak atik gathuk menjadi Mengaku Paling Bener, merasa paling benar, tidak mau mengakui kesalahan dan tidak mau memaafkan orang lain, tidak mau membuka pintu maaf bagi sesama manusia. Loh… apa di Hari Raya Idul Fitri masih ada (manusia muslim) yang Mengaku Paling Bener, atau setidaknya Mengaku Benar? Sepertinya tidak. Sebab, di hari itu, yang tua dan yang muda yang laki-laki dan yang wanita, semua Mengaku Lepat, Mengaku Salah, Mengakui Kesalahan, disampaikan untuk diberikan pemaafan. Ini keindahan Idul Fitri, bukan?
Sebagai simbol, secara historis ketupat lahir dari sebuah pergulatan kebudayaan pesisiran. Sumber dari Malay Annal (1912) oleh HJ de Graaf menyebutkan, kupat atau ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Fatah pada awal abad ke-15. Bungkus ketupat dipilih dari janur. Mengapa janur? De Graaf menduga-duga secara antropologis bahwa hal itu berfungsi sebagai identitas budaya pesisiran karena pohon kelapa kebanyakan tumbuh di dataran rendah. Selain itu, warna kuning memberi arti khas untuk membedakan dari warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.
Kupat yang kita lihat adalah anyaman janur kuning yang menggambarkan jalinan silaturrahmi yang erat, saling membungkus, dan saling menguatkan. Semacam simbol pentingnya persatuan dan kesatuan. menurut Saya, janur kuning, daun kelapa muda, juga berarti simbol perlunya mempermuda, terus memperbarui jalinan silaturrahmi agar tidak lekas menua dalam pengertian menjadi rapuh dan lemah. Sebab, rapuh dan lemahnya silaturrahmi adalah embrio keterpecahan baik individual maupun kolektif. Dan ini berbahaya bagi kelangsungan hidup kita.
Kita beruntung memiliki perayaan Idul Fitri. Kita juga diuntungkan dengan tradisi dan budaya kupat atau ketupat dengan simbolisasinya. Karena Kupat bisa menjelaskan Hakikat Idul Fitri dengan mengangkat dan mengharagai budaya lokal. Kita tidak harus alergi dengan simbol darimanapun itu asalnya. Sebab, dalam simbol, kita bisa menguak makna tanpa kehilangan esensinya.
Kalau kemudian dalam perjalanannya tradisi dan budaya kupat atau ketupat tergantikan menjadi Kuliner Lontong Opor, Ketupat Sayur, itu menggambarkan perlunya mengabadikan tradisi dan Budaya Kupat sepanjang masa, tidak hanya ketika perayaan Idul Fitri. Budaya Kupat, Mengaku Lepat, Mengakui dan mau Mengakui Kesalahan secara lembah manah, low profile, berarti kesadaran untuk selalu mengakui diri berpotensi untuk bersalah (karena tidak ada manusia yang sempurna) sekaligus membuka diri bagi orang lain untuk memberikan pemaafan.
Tuhan Maha Pemaaf dan Pengampun. Sebagai mahluk-Nya, sudah sewajarnya kita menjadi manusia pemaaf. Ada banyak keindahan dalam tradisi saling memaafkan. Selamat Idul Fitri 1430 H, Mohon Maaf Lahir Batin.
Related posts:
- Kartu Lebaran
- Imlek dan Asimilasi Budaya Tionghoa di Indonesia
- Fenomena Mudik, Arus Mudik Dan Arus Balik
- Sedekah Laut: Ritual Budaya Nelayan Cilacap
- Idul Fitri Mudik Spiritual Menuju Fitrah Kemanusiaan
- Budaya Politik Uang dan Nasib Caleg Miskin
- Memperpanjang Usia Dan Mengganti Wajah Blog
- Arus Balik, Mengapa Selalu Meningkat?
- Bupati Menolak Silaturahmi Idul Fitri Wakil Bupati
- Objek Wisata Pantai Indah Widara Payung Cilacap
| This entry was posted by Munawar AM on September 22, 2009 at 4:19 AM, and is filed under Opini Budaya. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |




about 5 months ago
Minal Aidzin Wal fa Idzin juga ya Kang Nawar..
Wah Kupat2. Kali ini diramah lagi banyak kupat. hehehe..
about 5 months ago
Subhanallaah, pengungkapan makna yang indah dari pengertian “ketupat”. memang sebaiknya menjadi jiwa kita untuk selalu mempermuda jalinan silaturahmi, cara pandang dan bersikap sehingga mencapai apa yang diidealkan oleh ajaran Islam.
terima kasih utk posting yang bernas dan mendalam ini, Kang Nawar.
about 5 months ago
Ternyata begitu dalam filosofi dari ketupat ini
Sekalian Abi ucapkan Minal Aidhin Wal Faidhin, Maaf Lahir Bathin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H, untuk kang Munawar berserta keluarga
Abi
about 5 months ago
Selamat Bada Kupat…
about 5 months ago
nyam nyam.. pasti enak ya ketupatnya.. slm kenal mas..
about 5 months ago
pokoke initnya klo lebaran selalu berhasil bkn berat badanQ naik…hehehe
minal aidin ya…mohon maaf lahir dan batin
about 5 months ago
Assalamu’alaikum,
Alhamdulillah, saya sampai di sini. Belum keliling-keliling lihat blognya, tapi sudah jelas blognya bagus sekali.
SELAMAT IDUL FITRI 1430 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Salam buat keluarga.
——————————
@Abdul Aziz: terima kasih, bapak. Mudah-mudahan blog ini bermanfaat.
about 5 months ago
http://ferdianadi.com/2009/09/22/mohon-maaf-lahir-dan-batin/
Bapak..Assalamu’alaikum…saya benar2 kepengin mampir ke rumah panjenengan. Mohon alamat lengkapnya dikirim ke e-mail atau HP saya. maturnuwun sanget.
about 5 months ago
saya baru tahu arti lain kuliner
about 5 months ago
Makna simbolis dan filosofis yang dalem kang. Mntab dengan penuturannya yang luar biasa. Salam saya.
about 5 months ago
Assalamu’alaikum
Selamat Idul Fitri 1430H
Maaf lahir batin (lagi)
Salam hangat dari Surabaya
————————–
@Pakde Cholik: alhamdulillah, Blog Ini tambah hangat dengan kehadiran pakde, sugeng rawuh, Pakde..
about 5 months ago
si akang kalo bikin postingan pasti selalu lengkap kap kap… penguraian filosofi ketupat di jelaskan secara rinci dan sangat jelas. jarang sekali umat muslim tergugah untuk mengerti secara rinci tentang filosofi mengapa lebaran di identikan dengan ketupat ? khususan di Indonesia.
Taqobalallahu mina wa minkum.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN….
about 5 months ago
minal aidzin wal fa idzin ya kang…mohon maaf lahir dan bathin
about 5 months ago
Ulasan yang sangat menarik, memang bagi bangsa Indonesia, lebaran tanpa ketupat ibarat sayur tanpa garam. kurang lengkap rasanya, lebaran tanpa menikmati sajian ketupat.
ketupat dengan kekhasan kemasannya memang begitu sarat dengan nilai filosofis. Mudah-mudahan saja kita dapat mengambil hikmahnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
about 5 months ago
Hai, salam kenal, artikel anda ada di
http://seni-budaya.infogue.com/budaya_kupat_lebaran_ketupat_dan_kuliner
ayo gabung bersama kami dan promosikan artikel anda ke semua pembaca. Terimakasih ^_^
about 5 months ago
Minal Aidzin wal Faidzin…
about 4 months ago
setau saya dari cerita kakek saya pada zaman sunan drajat di Lamongan kampung halaman saya Kuetupat atau Kupat (:jawa) memiliki arti Kudu (njogo) Papat artinya Harus (menjaga) empat hal antara lain: Syariat, ma’rifat, dan 2 lainnya lupa saya… =)