Puncak arus balik komunitas perantau seusai Mudik Idul Fitri diperkirakan akan terjadi di ahir pekan ini yang antara lain ditandai dengan kepadatan arus lalu lintas di jalan raya. Pada setiap peristiwa arus balik, hampir selalu muncul pertanyaan arus balik, mengapa selalu meningkat? Mengapa para pendatang baru  ke kota besar seperti Jakarta yang nebeng di lalu lintas arus balik selalu mengalami pertambahan dan peningkatan?

Arus Balik Ini adalah fenomena komplek yang mengandung dimensi sosial sekaligus ekonomi yang sudah berjalan sekian tahun tanpa ada mata rantai yang putus secara sebenarnya. Ini adalah bagian dari dampak sosial ekonomi realitas masyarakat,  sisi positif kaum urban dan proses urbanisasi itu sendiri. Urbanisasi sudah menjadi Tradisi dan Budaya. Mata rantai arus mudik- arus balik berputar mengikuti perkambangan zaman yang diapresiasi secara terus menerus oleh masyarakat hingga menimbulkan dampak peningkatan kaum urban dan atau pendatang baru.

Kurang apa kampanye Pemda DKI Jakarta misalnya, yang menghimbau agar tidak usah datang ke Jakarta, atau dengan menggelar Operasi Yustisi Kependudukan? Apa langkah-langkah tersebut menyurutkan niat calon pendatang baru untuk tidak datang dan mengadu nasib ke Jakarta? Ternyata himbauan itu tidak pernah berjalan sesuai yang diharapkan. Para calon penghuni Ibu Kota tetap saja menerabas dengan mental yang kuat meski kadang minim life skill. Bisa jadi, kadang malah hanya bermodal mental saja.

Ini barangkali proses dari lingkaran terjadinya peningkatan jumlah arus balik. termasuk di dalamnya para pendatang baru. Bagi masyarakat di pedesaan, Jakarta masih ibarat magnet. Bukankah Magnet mampu menyedot butiran pasir besi sekaligus debu yang menempel? Daya sedot Jakarta tercermin dalam kisah sukses para perantau yang mudik pada setiap Idul Fitri. Kisah sukses tidak harus tercermin secara matematis dalam hitungan angka-angka. Cukup dengan cermin bagaimana orang lain melihatnya.

Ketika “orang lain” adalah masyarakat pedesaan yang rindu akan peningkatan taraf hidup; yang sudah tidak bisa lagi melihat peluang pekerjaan di desa;  yang silau akan kemewahan kaum perantau; atau yang secara sengaja “diajak” untuk merantau, maka semua itu memungkinkan terjadinya perubahan pemikiran; bahwa ke Jakarta merupakan sebuah pilihan. Dan ketika itu benar-benar menjadi pilihan, maka tidak ada pilihan lain kecuali berangkat ke Jakarta dengan risiko “DIPULANGKAN” jika tidak memenuhi sarat administrasi kependudukan.

Secara dengan lantang, Wagub DKI Prijanto mengatakan:  “Berdasarkan kesepakatan bersama dengan daerah-daerah penyumbang kaum urban, para pendatang yang Terjaring Operasi Yustisi akan ditampung di suatu tempat dan akan dipulangkan. Ongkos pemulangan warga daerah luar Jakarta itu akan dibiayai oleh pemerintah daerah asal mereka. Dengan adanya biaya pemulangan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah asal para pendatang, paling tidak pemda tersebut akan mati-matian memberdayakan daerahnya menjadi seindah dan sebaik Kota Jakarta”.

Operasi Yustisi Kependudukan dan Operasi Bina Kependudukan akan dilakukan secara serentak di lima wilayah Jakarta pada tanggal 23 Oktober 2008. Bekerja sama dengan seluruh instansi terkait dalam rangka melaksanakan tindak pidana ringan atau tipiring. Sanksi pelanggaran yustisi menurut Perda No 4 Tahun 2004 yaitu diancam dengan pidana kurungan selama tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 5 juta.

Para calon pendatang baru ke Jakarta saya kira akan berpikir seribu kali jika aturan tersebut benar-benar dilaksanakan. Tapi apa realitasnya demikian? Mari kita saksikan tetangga kita masing-masing yang baru akan berangkat ke Jakarta, jika seandainya terkena sanksi pelanggaran yustisi, apakah dia benar-benar akan dipulangkan? Atau dia akan pulang atau mudik di Idul Fitri yang akan datang?

Jakarta Sudah Habis, kata Iwan Fals. Tapi, Jakarta masih tetap akan menjadi magnet dengan daya sedot yang kuat, terutama bagi komunitas pedesaan, selagi pemerintah daerah setempat tidak melakukan pemberdayaan masyarakat secara berkesinambungan dan menyentuh komponen masyarakat hingga ke pedesaan. Jika ini tidak dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, maka saya yakini bahwa arus balik akan terus meningkat.

Bagi Sahabat Blogger yang kebetulan “merantau”  di Jakarta,  Saya ikut mendoakan semoga arus balik nya lancar dan selamat sampai tujuan. Jika dianggap tidak perlu, maka jangan membawa kerabat keluarga atau tetangganya ke Jakarta. Tapi jika dianggap perlu, maka keputusan ada di tangan Sahabat semua.

Incoming search terms for the article: