Menulis merupakan kunci utama dalam blogging. Setiap orang, siapapun yang memutuskan untuk membuat blog, berarti semestinya dia sudah memutuskan untuk menulis, menulis dan publish. Bagaimana jika sebuah blog tanpa tulisan / postingan? Ya, kurang menarik tentunya. Tapi semua tergantung masing-masing yang punya dan tergantung kategori blognya. Ada Bloggers yang menjadikan blognya masuk ke dalam kategori general blog, photo blog, mobile blog, audio blog, video blog atau lainnya. Toh semuanya pasti melibatkan aktifitas menulis di dalamnya. Jika masuk kategori video blog, pasti akan ada sedikit keterangan tentang isi dan aktifitas video blogging di dalamnya. Jadi, saya bisa memastikan bahwa menulis merupakan pilar dari aktifitas blogging.

Jika saya katakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menulis, maka ini tidak lebih dari sebuah pemberian motivasi. Saya mengatakan setiap orang, bukan semua orang. Sebab, sampai hari inipun, masih banyak orang yang tidak bisa menulis; entah karena keterbatasan fisik (divable), ketiadaan pengetahuan, atau karena faktor lainnya. Divable untuk menyebut mereka yang mengalami keterbatasan fisik, kata ini lebih santun dari kata cacat.

Coba simak yang berikut ini: Di pihak lain, untuk mempermudah orang tunanetra dalam memasukkan dan menyimpan data, telah dikembangkan pula Braille notetaker, yaitu komputer kecil (beratnya sekitar 1 kg) yang memungkinkan orang tunanetra menulis dengan braille dan mendapatkan output dalam bentuk suara dan/atau braille. Alat ini dilengkapi dengan Braille display dan Braille keyboard serta speech synthesizer dalam satu hardware yang kompak; baca keterangan lengkapnya di situs ini.

Semua langkah ditempuh oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi tentang pentingnya menulis. Sekolah formal jelas. Pendidikan luar sekolah juga jelas. Layanan-layanan sosial dengan keluar masuk ke suku-suku di Pedalaman sekedar untuk mengajarkan menulis (dan membaca) juga banyak dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat. Bagi mereka yang masuk kategori divable sekalipun, sudah diupayakan dari tingkat manual (mesin ketik)  hingga yang digital (komputer berbasis huruf Braille).

Kemampuan menulis harus digali dan diasah. Digali berdasarkan minat dan bakat, dan diasah dengan praktek yang cukup. Percuma saja memiliki bakat dan minat tapi tidak dibarengi dengan upaya dan kehendak untuk mengembangkan kemampuannya dalam menulis. Maka, mari mencoba menggali minat dan bakat masing-masing. Kuatkan minatnya dan tentukan bakatnya di bidang apa kemampuan menulis itu akan dikonsentrasikan, kemudian blogging-kan.

Melalui blogwalking yang cukup, saya menemukan berbagai macam blog dengan konsentrasi postingan yang bermacam-macam pula. Sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan pemiliknya. Ada blog musik, politik, agama, budaya, kesehatan, kesenian, tehnologi, kepenulisan, bisnis, social, ekonomi, berita/news, resep masakan, pendidikan, psikologi dan lain-lain. Semua berbasis tulisan. Ini menunjukkan bahwa aktifitas menulis dalam dunia blog dan blogging -sekali lagi-merupakan kunci utama.

Fenomena special report atau free report dari blogger professional yang bisa didownload secara gratis maupun berbayar, biasanya dalam bentuk ebook, semua berawal dari aktifitas menulis dari pemiliknya. Dan ketika kita tahu kekuatan sebuah ebook untuk membangun blog, maka pada awalnya sebenarnya juga bermula dari aktifitas menulis.

Melalui Tips Menulis ini (sebermulasekali dikemukakan untuk diri saya sendiri), saya hendak memastikan bahwa kemampuan menulis membutuhkan support yang bersifat motivasi psikologis dan tidak semata-mata praktis. Praktis dalam pengertian mengemukakan tips menulis hanya dengan metode 5W + 1H misalnya; Who, When, Why, Where, What dan How. Mengapa, karena jika motivasi psikologis sudah kuat terbangun dan mapan secara psikis, maka untuk menjalankan yang praktis merupakan hal yang lebih mudah untuk ditempuh.

Contoh kasus; saya sedang malas-malasan, sehingga blog saya biarkan tanpa diupdate dengan postingan yang baru selama seminggu terakhir ini. Secara psikologis sedang malas, tapi secara praktis sudah menguasai teknik menulis. Saya yakin, bahwa dalam situasi malas-malasan sekalipun, kita bisa tetap menulis. Ya, tulis saja untuk mengemukakan apa yang menjadi penyebab dan mengapa malas-malasan tersebut menghinggapi. Pasti semua ada asalannya. Siapa tahu pembaca tulisan dalam blog bisa memberi solusi agar Anda bangkit dari situasi malas-malasan.

Loh, blog koq menjadi media curhat, Why Not. Bukankah konsep awal blog adalah diary online yang berisi catatan-catan pribadi? Demikian semoga bermanfaat. Tetap semangat.

Incoming search terms for the article: