Dalam dunia photography, dikenal istilah angle. Berapa banyak photographer sebanyak itu pula angle bisa ditemukan. Karena setiap tukang photo pasti memiliki tehnik, cara, dan tips mengambil angle yang pas dan berbeda meski hasilnya sama; sebuah foto. Begitu juga dengan dunia tulis menulis, ada angle tersendiri dengan tehnik, cara dan tips menulis yang berbeda-beda dari masing-masing penulis untuk  hasil yang sama;  sebuah tulisan, atau posting dalam sebuah blog.

Menulis Yang Sudah Pernah Ditulis oleh blogger lain merupakan salah satu tips menulis posting yang unik. Sebab, pertama-tama harus bisa keluar dari kungkungan copy-paste kemudian mencoba mencari angle, atau sebut saja celah, yang belum dibidik. Tips ini menemukan titik singgungnya dengan kenyataan sulitnya menemukan ide orisinil sehingga meniscayakan intertekstualitas; sebuah ruang di mana celah-celah bisa digali dan dieksplorasi. So, mestinya kita tidak kekurangan, apalagi sampai kehabisan ide.

Sebab menjadi blogger memiliki konsekuensi logis menjadi seorang penulis, maka dalam membidik dan mengambil celah kosong dari milyaran tulisan, diperlukan cara yang elegan. Berikut ini 5 tips menulis posting dalam suasana blogosphere yang semakin kebanjiran informasi, dengan menelisik pada celah yang memungkinkan untuk dieksplorasi.

1. Harus memiliki komitmen kuat untuk tidak melakukan copy-paste.

Siapapun blogger, tidak ingin tulisannya dicopy-paste. Kalaupun ada yang menghendaki, blogger memiliki kebijakan untuk tetap menyebutkan sumbernya. Ini karena blog dan isinya merupakan karya –sepenuh hati dan jiwa– atas dasar keringat dan usaha. Tradisi Copyright mungkin akan muncul dikemudian hari di mana blog akan dipatenkan; bukan suatu yang mustahil.

2. Memilih Judul Yang Berbeda Dengan Kompetitor Lainnya

Menentukan judul untuk mengangkat issu aktual tentang kasus yang diduga melibatkan Antasari Azhar memerlukan kejelian, terutama justeru ketika membidik sebuah judul posting. Ini sekedar contoh. Pada kenyataannya, sebuah posting akan lucu jika menggunakan judul yang sama. Toh Google mentolerir variasi keyword yang dimasukkan ke dalam judul posting dengan konsekuensi terindeks.

3. Mengandung Informasi Baru sebagai pelengkap tulisan sebelumnya

Informasi berkembang sesuai dengan temuan-temuan baru. Tema dan topik informasi tertentu juga demikian. Temuan baru tidak selamanya menghapus kronologis temuan sebelumnya. Teks akan menghadirkan interteks. Proses terjadinya intertekstualitas membuka seluas-luasnya celah baru, yang berarti juga informasi baru.

4. Tidak memaksa menulis topik yang memiliki celah tipis / sudah sumpek

Memaksa diri menulis topik yang sudah sumpek merupakan awal dari proses kehabisan dan kehilangan ide. Ini persis dengan istilah niche dalam dunia bisnis online. Niche yang sumpek dan sesak akan mengakibatkan tidak saja hilangnya peluang tapi juga kehabisan modal. Intinya, jangan menulis apapun dalam kondisi terpaksa.

5. Melakukan eksplorasi dengan daya tangkap otak dan imaginasi sendiri.

Otak dan imaginasi kita merupakan domain otonom, ha ha ha…., iki istilah opo meneh Kang…? Sederhana saja; kita bebas mengembara untuk melakukan eksplorasi terhadap detil dan celah yang sudah ditemukan lepas maupun terkait dengan pikiran orang lain. Kompromikan imaginasi dengan bahasa verbal yang distimulus dari otak kemudian tuangkan dalam tulisan. Ini bisa spontan sehingga mestinya tidak menunda untuk menuliskannya. Percaya atau tidak percaya, imaginasi akan menghadirkan angle, celah dan sudut pandang yang berbeda. Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

Incoming search terms for the article: