Menang atau kalah adalah keniscayaan dalam sebuah permainan. Meraih kemenangan ataupun mendapatkan kekalahan seperti dalam pemilu legislaitf 2009 juga sesuatu yang pasti terjadi. Siapa yang tidak ingin memenangkan sebuah permainan? Bahkan dengan menempuh segala cara seperti Praktek Politik Uang atau Money Politic. Dalam politik, semua menjadi mungkin. Kekalahan tipis bisa menjadi kemenangan mutlak atau sebaliknya. Kemenangan atau kekalahan, keduanya memiliki konsekuensi, baik positif maupun negatif.

Konsekuensi positif dalam sebuah kemenangan bisa berarti selangkah menuju sebuah harapan. Konsekuensi negatifnya bisa memunculkan sikap arogan dan percaya diri yang berlebihan. Konsekuensi negatif dalam sebuah kekalahan bisa berarti hilangnya kepercayaan diri, stress, hingga tindakan anarkhis, konsekuensi positifnya adalah keharusan menerima kekalahan sebagai sebuah kenyataan dilandasi kesadaran untuk melakukan koreksi diri dan belajar untuk berjiwa besar.

Siap atau tidak siap, para Calon Legislatif akan menerima kenyataan; kemenangan atau kekalahan. Dalam politik, jarang terjadi hasil seri. Kalaupun terjadi, pasti mengundang kontroversi. Kontroversi juga sering terjadi karena proses yang tidak lazim; kemenangan diraih karena proses rekayasa dimenangkan dan kekalahan diterima karena ada proses rekayasa dikalahkan, dengan terhormat maupun dengan tidak terhormat. Dalam hal ini, pecundang bisa disulap menjadi pemenang.

Dalam pertarungan memperebutkan suara terbanyak, semangat untuk memenangkan diri sebangun dengan semangat untuk mengalahkan orang lain; calon anggota legislative lain, dalam satu partai maupun antar partai politik. Ini juga merupakan konsekuensi logis yang tak terbantahkan dari sebuah permainan politik yang mayoritas kotor. Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan jargon dan ideologi politik bersih. Karena saya juga tidak percaya bahwa manusia itu sempurna.

Hampir semua aktifitas politik ada dan masuk dalam lingkaran skandal korporatis. Bahasa halusnya koalisi; permanent maupun temporal. Pada kenyataannya, tidak ada koalisi yang permanen. Semua bersifat temporer. Ini menjadi pilihan karena tujuan poilitik berubah-rubah, termasuk tujuan untuk meraih jabatan dan kekuasaan baik legislatif maupun eksekutif presiden dan wakil presiden. Keduanya terbuka sekali untuk diperdagangkan diperjualbelikan dengan cara-cara licik-kotor meski dibalut dengan semanis apapun jargon-jargonnya. Karena pembalut utama politik adalah KEPENTINGAN.

Pemilu legilasitf 9 April 2009 sudah selesai. Konsekuensinya, sedikit saja yang menang, yang kelak berhak menduduki kursi di parlemen. Lebih banyak kalah, sebab kuota kursi di parlemen terbatas sementara jumlah calon legislatif yang sangat banyak itu, tidak mungkin akan jadi semuanya, bukan? Masyarakat sudah menghabiskan lebih dari lima menit untuk mencontreng karena bingung dan tidak mengenal siapa yang mau dipilih. Tapi, masyarakat sudah menjatuhkan pilihan dengan mencontreng yang berarti amanat sudah diberikan kepada calon wakil rakyat yang menang. Masyarakat juga sudah memenuhi haknya untuk memilih meski pilihannya harus kalah dan tersisih.

Menang atau kalah bukan persoalan penting bagi masyarakat. Pada saatnya nanti, kemenangan atau kekalahan tersebut beserta kebijakan-kebijakan yang akan dimunculkan, pasti akan diklaim dan diambil alih oleh Partai Politik, menjadi sebuah kemenangan, kekalahan, dan kebijakan partai politik. Masyarakat hanya sudah memenuhi apa yang sudah menjadi haknya; mencontreng, menitipkan amanatnya kepada para wakil rakyat, berharap wakil rakyat akan memenuhi apa yang menjadi harapan masyarakat.

Incoming search terms for the article: