Ketika SBY berang dan menganggap adanya praktek-praktek sihir dalam pemilu presiden 2009, saya bisa memaklumi dan memahaminya dari dua sudut pandang. Pertama, memang benar ada yang bermain sihir –mungkin tepatnya praktek-praktek mistik-perdukunan untuk menggelembungkan suara —dalam konteks Pilpres seperti diyakini SBY. Kok SBY tahu sehingga perlu menyampaikan statement? Seorang SBY mustahil tidak memiliki konsultan spiritual (yang dekat dengan tindakan-tindakan mistik) seperti halnya mustahil SBY tidak memiliki konsultan politik dan atau tim sukses.

Kedua, praktek-praktek sihir magik klenik mistik dalam wilayah politik minimal untuk dua tujuan, memenangkan diri dan mengalahkan lawan. Jika parameternya adalah capaian dan perolehan suara, maka ini diluar hitungan atau hitung cepat Lembaga Survey tentunya. Mereka para pelaku sihir magik klenik mistik memiliki hitungan sendiri yang sangat mungkin nalar modern kita tidak bisa menganalisa dan menerima; karena domain kita berbeda dengan mereka.

Saya termasuk orang yang mempercayai adanya sihir magik klenik dan mistik. Ia ada di dunianya sendiri, gaib, metafisis dan hampa ruang, namun bisa dimanipulasi untuk kepentingan dunia lain; seperti dunia politik. Sihir magic klenik mistik jika dihubungkan dengan politik, dunia politik, carut-marut politik memiliki makna beragam. Sudut pandang yang paling mudah untuk menemukan titik singgung praktek Sihir Magik Klenik Mistik dalam Politik ada di ranah atau wilayah kekuasaan, perebutan jabatan dan tindakan-tindakan politis lain. .

Di daerah di mana sahabat-sahabat tinggal, tentu ada tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat yang bertuah atau keramat menjadi jujugan para pertapa dan orang-orang pintar. Ini masih ada dalam domain tradisi. Saking kuatnya, maka praktek-praktek –sihir magik klenik mistik – dari dan di tempat-tempat keramat masih tetap bercokol. Tidak sedikit yang menolaknya dengan alasan primitiv-kuno irrasional seperti fenomena Batu Ajaib Ponari ketika itu. Namun di zaman modern seperti sekarang ini, saya bisa mengatakan bahwa masih lebih banyak orang yang mempercayai dan mengamalkan praktek-praktek sihir magik klenik mistik.

Bagi masyarakat Kabupaten Cilacap, Gunung Srandil dan Gunung Selok adalah tempat wisata religius tempat jujugan para pertapa, tukang semedi-meditasi dari wong cilik sampai pejabat dan elit politik. Mantan Presiden Soeharto disinyalir termasuk yang sering mengunjungi Gunung yang berada di tepai Laut Selatan ini. Dalam rangka apa? Untuk memasuki domain magik klenik mistik dalam rangka meraih dan mempertahankan kekuasaan sebagai sebuah cita-cita politik, semasa beliau masih hidup. Kabar ini bukan merupakan sebuah rahasia lagi.

Jadi, praktek politik kita memang masih sarat dengan aroma sihir magik klenik dan mistik. Jika tidak demikian, maka sarat akan money politic yang memiliki tujuan sama; memenangkan diri dan mengalahkan lawan; untuk memperebutkan kekuasaan di kursi dewan, atau bahkan untuk meraih jabatan kekuasaan yang lebih rendah lagi seperti kepala desa misalnya. Ini cerita di kampung saya yang menjadi bagian dari tradisi Jawa. Entah di tempat di mana sahabat tinggal; lain tempat mungkin lain pula ceritanya.

Incoming search terms for the article: