Posting ini tidak hendak ditujukkan sebagai peserta kontes seo dengan keyword Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 yang sudah mulai meramaikan hasil pencarian di mesin pencari. Nampaknya, keyword Kampanye Damai dam Pemilu 2009 akan ikut menjadi rising search di Google Insights for Search harai-hari kedepan mengalahkan Valentine’s Day dan ancaman Bencana Alam memasuki puncak musim hujan di Februari Bulan Kasih Sayang (bukan bulan banjir bandang).

Saya hanya ingin merefleksikan Pemilu 2009 yang sebentar lagi akan digelar, dikaitkan dengan proses kampanye yang diharapkan akan berlangsung damai dan menyinggung sedikit mengenai nasib kampanye pemilu setelah munculnya fatwa haram golput dan kemungkinan-kemungkinan yang merupakan prediksi hasil pemilu legislatif dan pemilihan presiden.

Meski menggunakan kata versus, saya tidak hendak menjadikan dua fenomena politik Indonesia belakangan ini sebagai dua sisi yang saling bertentangan. Harapan akan adanya kampanye damai, bersamaan dengan keluarnya fatwa MUI mengenai haram golput merupakan dua mekanisme konstitutional dan nonkonstitusional menuju pemilu 2009 yang berkualitas guna menghasilkan pemerintahan yang mampu memenuhi harapan masyarakat pemilih; apa pun kemudian kontroversi yang mengiringinya.

Siapa yang tidak ingin kampanye damai dalam pemilu Indonesia 2009? Tidak ada tentunya. Damai dalam pengertian tetap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi,  menjaga martabat dan kedewasaan berpolitik merupakan idaman kita semua. Apakah keluarnya fatwa haram golput akan dapat mendukung pemilu yang berkualitas? Belum tentu, sebab, kalau dipikir-pikir, masyarakat justeru tidak seberapa peduli dengan fatwa tersebut. Entah di lingkungan tempat tinggal Sahabat Blogger semua.

Apakah kampanye damai akan membuat masyarakat pemilih berbondong-bondong ke TPS meskipun di Tempat Pemungutan Suara tidak melakukan pencontrengan? Mau dooongngngng… dicontreng, kata Julia Perez.

Dari mencoblos ke mencontreng merupakan persoalan pelik bagi masyarakat awam, belum lagi lebar kertas suara yang jelas-jelas membikin tidak nyaman dalam menentukan pilihan. Ini disebabkan karena minimnya sosialisasi pemilu 2009 oleh pihak-pihak yang bewenang. Sementara para calon legislatif sibuk kampanye pribadi pasca keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi tentang perolehan suara terbanyak.

Saya punya prediksi (maaf; bukan ndukun), pemilu Legislatif 2009 akan sedikit menurun hasil perolehan suaranya dengan adanya fenomena golput. Ini bisa dilihat dari beberapa kasus Pemilihan Bupati dan atau Pemilihan Gubernur di beberapa wilayah di indonesia di mana golput menunjukkan fenomena yang menghawatirkan bagi kesuksesan pemilu 2009.

Saya juga memprediksi, kampanye damai yang sudah dideklarasikan oleh partai politik peserta pemilu bukan merupakan jaminan akan menaikkan perolehan suara masing-masing partai politik dan para calon legislatifnya. Sistem pemilu baru yang diterapkan dengan dana trilliunan rupiah merupakan persoalan pokok dalam menentukan berhasil atau tidaknya pemilu 2009; bukan kampanye damai ataupun fatwa haram golput. Ini prediksi; bisa salah bisa mendekati benar.

Prediksi ini berlaku juga bagi pemilihan presiden yang para calonnya sudah saling sikut dan saling lempar kritik; sesuatu yang bagi masyarakat sudah tidak menarik; baik yang stok lama maupun yang wajah baru. Ada antusiasme tapi terselip juga fenomena kebosanan dalam masyarakat terkait pemilu 2009 ini. Jadi, memang bahwa Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 bukan semata-mata penting untuk dikonteskan, tapi sangat penting juga bagi masa depan iklim politik di Indonesia. Demikian.

Incoming search terms for the article: