Ada yang bilang bahwa alat transportasi yang paling aman dan nyaman adalah pesawat terbang. Ini jika dilihat dari sisi potensi kecelakaan yang biasa menimpa alat transportasi non-pesawat. Di sana, di udara, tidak ada kepadatan arus lalu lintas, tidak ada “jalan berlubang”, tidak ada Pilot yang suka ngebut, tidak ada tikungan licin menghadap jurang, tidak ada / belum pernah mendengar pesawat dengan kelebihan penumpang dan muatan yang menyebabkan kecelakaan. Tapi, kecelakaan akibat pesawat menabrak burung, bahkan menabrak tawon, justeru bisa terjadi, sehingga Terbang Kemudian Jatuh.

airbus-a380Bahwa kecelakaan memang kemudian tidak memandang dan tidak pilih memilih. Tidak peduli menimpa alat transportasi darat, laut maupun udara. Semua pernah terjadi. Bahkan kecelakaan transportasi di darat / jalan raya hampir pasti terjadi setiap hari. Tapi, mengapa kecelakaan pesawat terbang sepertinya menjadi sering terjadi? Bukan kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan ini. Biarlah hal ini dijelaskan oleh para ahlinya.

Saya belum pernah sekalipun naik pesawat terbang sehingga belum bisa membuktikan bahwa pesawat terbang termasuk alat transportasi yang paling aman dan nyaman. Mungkin suatu saat, atau mungkin tidak akan pernah sama sekali. Phobia, barangkali. Seperti halnya phobia ketika harus naik Kapal Laut menyeberang antar pulau. Takut akan ketinggian (di udara) sekaligus takut akan kedalam (di laut).

Sebaliknya, ketergantungan sudah menjadi pilihan banyak orang untuk memilih pesawat terbang sebagai alat transportasi karena membutuhkan layanan cepat (sampai tujuan). Kebiasaan ini kemudian ikut membangun image bahwa apapun risiko kecelakaan dalam pesawat terbang, diyakini saja sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, jika itu benar-benar terjadi.

Menurut pemahaman Saya,  setiap kecelakaan pasti mengandung risiko, tapi kecelakaan pesawat terbang mengandung resiko yang sangat luar biasa; kemungkinan kematian yang sangat tragis dan memprihatinkan, apalagi jika mengingat kasus kecelakaan pesawat Adam Air yang diperkirakan jatuh ke tengah laut. Siapa menginginkan kejadian semacam ini akan terus terulang? Tentu tidak satupun.

Mari kita petik sebuah hikmah dan pelajaran; bahwa dalam sebuah kecelakaan pasti ada yang salah, atau paling tidak ada yang keliru. Bisa pada pesawat terbang (dan kapal laut) yang karena memang sudah lapuk termakan usia sehingga tidak laya terbang dan tidak layak berlayar. Bisa pada jalan raya yang dilalui karena banyak tikungan, banyak lubang yang menjebak. Bisa pada diri manusianya;  tidak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas dan minimnya kewaspadaan (dalam kasus kecelakaan darat).

Dari pemahaman tersebut, kemudian bisa diminimalisir untuk tidak melakukan simpul yang salah sebagai semata-mata human error, misalnya. Memang, semua bisa dikembalikan kepada sisi kemanusiaannya; karena manusia pula yang membuat sepeda motor, mobil, kapal laut, pesawat terbang, dan membuat jalan raya/darat.Tapi, sisi kemanusiaan juga terbatas tentunya. Oleh sebab itu, saya hendak mengatakan bahwa apapun jenis kecelakaan, di balik itu pasti ada takdir Tuhan.

>>Gambar diambil dari http://info-dirgantara.blogspot.com

Incoming search terms for the article: