Suicide BombingJika Ibrohim alias Boim tidak keburu terbunuh oleh Densus 88, Florist yang nyambi jadi Teroris itu mungkin sedang bersiap-siap untuk melancarkan serangan Bom Bunuh Diri ke kediaman SBY di Cikeas Bogor, atau sedang mempersiapkan diri untuk menyerang Istana Negara bertepatan dengan peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI 2009. Tapi, takdir berkehendak lain. Ibrohim Si Calon Pengantin Bom Bunuh Diri itu, batal mengorbankan diri sebagai Suicide Bomber. Wallohu A’lam tentang kematiannya itu, mati sahid atau bukan.

Bom Bunuh Diri rupanya semakin menjadi fenomena. Dalam setiap kasus bom bunuh diri (suicide bombing) yang dilakukan oleh kelompok-kelompok keagamaan radikal garis keras, selalu mengandung minimal tiga aspek; pengorbanan (sacrifice), kesahidan (martyrdom) dan kekerasan (violence). Dengan penggunaan kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban di pihak lain, klaim kemenangan bisa diraih. Dengan mengorbankan pihkanya sendiri, klaim kesyahidan diberikan kepada pelaku. Bagi mereka para pelaku, para syuhada, tidak ada ganjaran lain kecuali surga.

Pemuka agama, pemimpin sekte dan kelompok keagamaan, seorang pemimpin gerakan keagamaan radikal, bisa saja melakukan ideologisasi bahwa kekerasan berbalut agama –sampai tindakan bom bunuh diri– sebagai tindakan pengorbanan sekaligus kesahidan. Karena mereka memandang bahwa agama memiliki kemampuan untuk memberikan ganjaran moral atas tindakan kekerasan. Dan ini mereka tempuh sebagai sebuah Jalan Kebenaran.

Dalam praktek bom bunuh diri, kekerasan –yang oleh Erich Fromm disebut sebagai gejala necrophilia atau cinta kepada kematian– kemudian “dikosongkan” dari wataknya yang destruktif, dibungkus dengan retorika dan bahasa religius secara rigid, dimaknai secara keagamaan sebagai tindakan yang suci, holy, sacred sehingga kekerasan terbebas dari cela karena merupakan bagian dari renungan sekaligus praksis religius.

Sebagai contoh, pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini, pernah mengatakan bahwa dia tidak mengetahau perintah apapun yang lebih mengikat umat Islam kecuali seruan untuk masti syahid dalam rangka menunaikan kewajiban untuk mempertahankan dan membela Islam. Sementara pemimpin Yahudi sayap kanan berujar: “tentu saja tidak ada masalah dengan penggunaan kekerasan demi memenangkan tujuan-tujuan keagamaan kami” (Mark Juergensmeyer; 1998:181).

Imad Aqel, pemimpin Izzudin Al-Qassam, sayap Militer Hamas di Jalur Gaza, mengatakan: “to kill Israeli Soldiers is to worship God—membunuh tentara Israel adalah bagian dari Ibadah kepada Allah. Imad Aqel adalah pejuang, martyr, sekaligus suhada yang menjadi symbol perlawanan Hamas terhadap Israel. Heroismenya menginspirasi Hamas untuk memproduksi Film dengan judul yang diambilkan dari nama Imad Aqel

Anak-anak muda yang dipilih sebagai “pengantin bom” atau pelaku bom bunuh diri oleh Hizbullah Libanon memiliki karakteristik istimewa; belum kawin, bebas tanggungjawab, saleh dan relatif belum mengakumulasi dosa-dosa; sebuah karakteristik yang sering diberikan kepada calon martir dan atau calon suhada.

Karakteristik ini pula yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari pola-pola rekruitmen jaringan terorisme yang digawangi Noordin M Top di Indonesia. Kuat diindikasikan sudah melirik dan merekrut kaum muda remaja, didoktrin, cuci otak sebagai anggota jaringan teroris sampai sebagai pelaku bom bunuh diri seperti Nana Dwi Permana, suicide bomber JW Marriott, yang tergolong masih remaja.

Selama ini, fenomena bom bunuh diri lazim terjadi di negara-negara konflik seperti Palestina, Libanon, Syuriah, Iran, Irak dan negeri-negeri muslim lainnya. Juga di negeri-negeri seperti Srilanka, India, Pakistan, Afghanistan. Di Indonesia, fenomena bom bunuh diri sudah sampai pada tahap menghawatirkan.

Lepas maupun terkait bahwa fenomena bom bunuh diri di Indonesia merupakan ekspansi dan diaspora ideology sekaligus gerakan  radikal dari negara-negara konflik tersebut di atas, kehawatiran bahwa bom bunuh diri akan menjadi tren, ini wajar sifatnya, karena rentetan kasus yang terjadi sudah terakumulasi dalam memori masyarakat menjadi bayang-bayang yang menakutkan; karena sifatnya yang spontan, tak terduga dengan serangan yang tiba-tiba.

Mudah-mudahan, peringatan Hari Kemerdekaan dan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke 64 tahun 2009 ini tidak ternodai oleh aksi kekerasan, terorisme dan tindakan anakis lainnya. Dirgahayu Republik Indonesia. Damailah Negeriku. Mari mensyukuri kemerdekaan ini dengan mencoba mengembalikan jati diri bangsa yang tercermin dalam Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi tetap satu jua, negeri yang ramah tamah, suka damai, toleran, menghargai multikultural dan kekayaan budaya bangsa.

Related posts:

  1. Mengembalikan Jati Diri Bangsa
  2. Count Down Mengembalikan Jati Diri Bangsa
  3. 4 Perspektif Tentang Fenomena Kebangkitan Islam
  4. Manohara | Kekerasan Dalam Rumah Tangga
  5. Fenomena Prabowo dan Gerindra
  6. Tiada Hari Tanpa Kekerasan Di Sekolah
  7. Fenomena Ponari dan Kegagalan Program Indonesia Sehat 2010
  8. Menolak Pemakaman Mayat Atau Jenazah Teroris Di Kampung Halaman
  9. MOS Tanpa Kekerasan
  10. Nurdin M Top Alias Noordin M Top