Sejauh yang saya amati sampai saat ini; hanya Partai Demokrat, Gerindra, Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sering memanfaatkan media iklan televisi untuk melakukan kampanye. Sementara Partai Politik lain sepertinya belum memanfaatkan secara maksimal efek positif penayangan iklan melalui media televisi. Mengapa?

Tidak semua partai politik mampu “membeli” durasi jam tayang iklan di televisi. Beruntung ada beberapa acara yang -langsung maupun tidak langsung– memfasilitasi tampilnya kampanye partai politik seperti Kontes DeParpol, Debat Parpol, Debat Kandidat dan acara yang tidak langsung yang sengaja menghadirkan narasumber berlatar belakang partai Politik.

Iklan Kampanye Partai Politik di Televisi sebenarnya sudah berjalan sejak rezim orde baru menguasai TVRI di mana tayangan-tayangan kegiatan kampanye partai politik seperti Partai Demokrasi Indonesia (PDI saat itu), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golongan Karya (Golkar) sering ditampilkan dalam beberapa event. Namun, saya masih ingat betul, kira-kira durasi tayang kampanye Golkar 90% dan sisanya untuk PDI dan PPP. Hari ini, Demokrat dan Golkar juga semakin menguasai Iklan Politik, maklum, kan Partai Pemerintah yang sedang berkuasa (dengan segala klaim keberhasilannya)

Fenomena tersebut berubah seiring bertambahnya stasiun televisi swasta (apa ada stasiun televisi negeri? Wkwkwkwkwk…). Booming iklan kampanye partai politik terjadi ketika pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun 2004. Ada 3 faktor yang saling berkaitan;

  1. Industri Pertelevisian memandang bahwa aktifitas partai politik menjadi bagian dari komoditas media untuk konsumsi publik yang bisa dijadikan lahan pendulangan uang.
  2. Partai Politik memandang bahwa keberadaan televisi dianggap efektif untuk dijadikan media penyampaian visi dan misi untuk sampai kepada masyarakat tanpa harus terjun langsung ke lapangan.
  3. Dunia Advertisement memiliki peran penting. Semarak kehadiran agen-agen periklanan menawarkan produk dari konsep, design hingga visualisasi iklan yang memungkinkan bisa menjerat hati masyartakat dalam konteks pendulangan suara.

Ketiga faktor tersebut memunculkan fenomena iklan kampanye partai politik (juga presiden dan wakil presiden) yang akan semakin semarak menjelang pemilu 2009. Secara umum, konsep iklan tersebut tidak jauh berbeda dengan konsep iklan produk pada umumnya.

Semakin sering ditayangkan, logikanya semakin mendapat tempat di hati masyarakat, untuk kemudian mampu membius masyarakat untuk tertarik dengan seluruh segmen yang tertayang dalam durasi iklan. Ujung-ujungnya, masyarakat membeli dalam iklan produk konsumtif, atau masyarakat menjatuhkan pilihan pada partai politik tertentu untuk dijadikan pilihannya.

Salah satu keberhasilan dibalik kemenangan pasangan SBY-MJK tahun 2004 yang lalu, antara lain karena faktor popularitas kedua tokoh tersebut yang didukung dengan iklan di televisi. Sekarang, di saat-saat menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden 2009, faktor popularitas tokoh masih menjadi bagian dari kampanye dalam tayangan iklan politik media televisi.

Sejauh mana iklan semacam itu mampu mendongkrak popularitas elite politik dan menjadi media pendulangan suara, akan sangat bergantung pada sudut pandang masyarakat. Sebab, jatuhnya pilihan masyarakat terhadap partai politik, kini tidak semata-mata bergantung pada popularitas elite politiknya, di samping kuatnya ancaman golput, masyarakat nampaknya justeru mengalami kebingungan; tidak hanya sistem pemilunya yang baru, tapi juga banyaknya partai politik peserta pemilu, serta kebosanan terhadap janji-janji kampanye.

Sampai pada saatnya nanti, saya beranggapan bahwa tidak banyak Partai Politik Peserta Pemilu yang akan memanfaatkan media televisi sebagai media kampanye.

Related posts:

  1. Iklan “Mie Instan” Calon Presiden
  2. 10 Partai Politik Untuk Indonesia
  3. Golput Bukan Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
  4. Sejarah Pemilu Multi Partai
  5. Kampanye Pemilu 2009 Kurang Greget?
  6. Kampanye Pemilu 2009 Versus Fatwa Haram Golput
  7. Cukup Lima Menit Untuk Mencontreng?
  8. Fenomena Prabowo dan Gerindra
  9. Belajar SEO Melalui Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
  10. Budaya Politik Uang dan Nasib Caleg Miskin