"Gus Dur: Guru Bangsa, Pembaharu Demokrasi dan Pembela Minoritas"KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, hari ini Rabu 30 Desember 2009 wafat di RSCM, Jakarta. Bangsa Indonesia kehilangan tokoh terbaiknya; mantan Presiden RI ke-4. Warga NU di seluruh dunia kehilangan tokoh kharismatis cucu pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari ini. Gus Dur dikenal bukan hanya sebagai sosok kontroversial, melainkan juga sebagai Guru Bangsa, Tokoh Pembaharu Demokrasi, Humanisme dan Pembela Kaum Minoritas. Berikut sedikit kutipan catatan In Memoriam Gus Dur.

“Pembelaan” menjadi keyword dalam salah satu kumpulan essay-nya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Gus Dur menyimpulkan bahwa Islam yang dipikirkan dan dialaminya adalah Islam yang khas, yang diistilahkannya sebagai “Islamku”. Tetapi Gus Dur menyatakan, “Islamku” atau “Islamnya Gus Dur” perlu dilihat sebagai rentetan pengalaman pribadi yang perlu diketahui oleh orang lain, tetapi tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.

Sementara yang dimaksud dengan “Islam Anda”, lebih merupakan apresiasi dan refleksi Gus Dur terhadap tradisionalisme atau ritual keagamaan yang hidup dalam masyarakat. Dalam konteks ini, Gus Dur memberikan apresiasi terhadap kepercayaan dan tradisi keagamaan sebagai “kebenaran” yang dianut oleh komunitas masyarakat tertentu yang harus dihargai.

Adapun rumusan tentang “Islam kita”, lebih merupaka derivasi dari keprihatinan seseorang terhadap masa depan Islam yang didasarkan pada kepentingan bersama Kaum Muslimin. Visi tentang “Islam Kita” menyangkut konsep integratif yang mencakup “Islamku” dan “Islam Anda”, dan menyangkut nasib Kaum Muslimin seluruhnya.

Persoalan mendasar dalam konsep “Islam Kita” itu terletak pada adanya kecenderungan sementara sekelompok orang untuk memaksakan konsep “Islam Kita” menurut tafsiran mereka sendiri. Ini merupakan wujud monopoli kebenaran. Dan monopoli kebenaran semacam itu, bertentangan dengan semangat demokrasi dan humanisme.

Sebelum menulis post ini, Saya mendapat SMS dari Tokoh Tionghoa di Kampung Halaman Saya; “mari kita bersama-sama berdoa, semoga Arwah Bapak Bangsa dan Tokoh Besar Yang Kita Cintai dan Hormati, GUS DUR, dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan diampuni segala kesalahannya,” Hwa Ming dan Keluarga.

Etnis Tionghoa di Indonesia termasuk komunitas yang menjadi target pembelaan Gus Dur atas nama demokrasi dan humanisme. Di era kepemimpinan kepemerintahannya, Gus Dur membuka pintu kebebasan berekpresi Etnis Tionghoa di Indonesia dan sampai hari ini bisa dirasakan hasilnya, terutama oleh mereka saudara kita dari etnis Tionghoa. Setelah rezim Orde Baru tumbang, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres No.14 tahun 1967. Kita tahu bahwa Inpres tersebut adalah tembok yang sangat tebal bagi warga Tionghoa untuk hidup, mencari penghidupan, dan mengekpresikan tradisi, budaya dan agama Konghucu di Indonesia.

Ini merupakan bagian dari misi pembelaan kemanusiaan khas Gus Dur. Dalam banyak aspek, terutama bagi para pecinta dan pengagum pemikiran-pemikiran Gus Dur, pembelaan Gus Dur bisa dilihat sebagai bentuk perjuangan tak mengenal lelah bahkan ketika harus ditempuh dengan mengorbankan image sendiri.

Hanya ini yang bisa Saya tulis untuk mengenang KH. Abdurrahman Wahid. Sedianya malam ini Saya diajak PCNU Kabupaten Cilacap untuk Ta’ziyah ke Teburieng, Jombang tempat di mana menurut rencana Gus Dur akan dimakamkan dengan upacara kenegaraan, namun, Saya memilih jaga gawang (kantor).

Allohummaghfirlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fu ‘Anhu. Selamat Jalan Gus Dur……

Incoming search terms for the article: