English isn’t my first language…kata John Chow. Ungkapan sederhana tersebut memberikan inspirasi bagi saya untuk menulis postingan ini. Untuk memilih apakah sebuah blog akan menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, bahasa daerah, atau bahkan bahasa gaul, itu adalah hak bagi setiap bloggers. Itu juga tergantung pada niatan untuk tujuan apa blog dibuat dan dibangun. Penggunaan bahasa apapun memiliki fungsi dan tujuan sendiri-sendiri yang juga bergantung pada kemampuan bloggers yang bersangkutan.

Nah, ungkapan John Chow di atas merupakan motivasi yang kuat bagi dirinya untuk secara bertahap menjadi blogger professional dan ternama di dunia, dengan menempatkan Inggris sebagai bahasa utama blognya. Saya juga termotivasi, cukup memiliki obsesi, meskipun bahasa saya yang pertama adalah bahasa Indonesia, bahkan bahasa yang pertama kali adalah bahasa Jawa, dan embrionya adalah Jawa Banyumas :)

Anda tentu mengenal dengan bahasa Banyumasan, bukan? Seperti yang sering dipraktekkan di lakon-lakon sinetron; dengan logat yang khas, ngapak-ngapak, inyong, rika arep meng ngendi, deneng ora sida lunga? kepriwe kiye?; beberapa contoh di antaranya. He he he….., Anda tersenyum? Ironisnya, pelakon di sinetron dengan logat Banyumasan itu kadang berperan sebagai “orang yang kurang beruntung”. Owalaaaah nasibe penginyongan.

Okey, sebab Indonesia adalah bahasa saya, maka saya lebih memilih untuk membangun blog ini dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Karuan saja, karena bahasa Inggris saya juga nilainya 4. Jika di dalam beberapa postingan dalam blog ini saya menyisipkan cuplikan atau kutipan dalam bahasa Inggris, itu saya lakukan untuk tidak mengurangi teks aslinya yang bisa mengakibatkan kesalahpahaman.

Kalaupun saya, mungkin juga Anda terobsesi dengan membangun blog yang murni berbahasa Inggris; apa ada yang salah dalam hal ini?. Saya kira tidak. Itu obsesi dan cita-cita luhur. Semoga dikabulkan. Toh semua memulai dengan tahap belajar dan belajar.

Study kasus: jika pernah mendaftarkan blog untuk diapprove sebagai publisher google adsense, kita diminta mengisi form yang salah satunya adalah tentang bahasa blog yang digunakan. Kata Blogger Indonesia, bisa dipilih untuk menyatakan bahwa blognya berbahasa Inggris, meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia.

Sepengetahuan saya, bahwa google adsense tidak support dengan blog yang berbahasa Indonesia, atau lebih tepatnya yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama blog. Sekali lagi sepengetahuan saya. Ini terbuka untuk salah. Karena saya juga melihat beberapa blog berbahasa campuran Indonesia- Inggris mempunyai google adsense space.

Jika google adsense sampai hari ini tidak support dengan blog berbahasa (murni) Indonesia, google juga memiliki strategi untuk mengukuhkan TOS program Adsense-nya dengan menggulirkan google translate yang support dengan bahasa Indonesia. Apa ini ada hubungannya, yah? Sangat mungkin.

Apa makna dibalik peluncuran google translate itu? Hanya google yang tahu. Tanpa berfikir panjang, kitapun berterima kasih dengan fasilitas tersebut; karena kita bisa iseng-iseng mencoba google translate atau justeru memanfaatkannya secara maksimal untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Mas Misbah.

Sebab Indonesia adalah bahasa Kita, maka Kita harus bangga, bukan? Persoalan bahwa aktifitas dalam blogging secara keseluruhan salah satunya mempersyaratkan untuk menggunakan bahasa Inggris, misalnya dengan mengikuti Bisnis Online dari luar negeri, itu bisa dilakukan di luar aktifitas internal blogging sendiri.

Saya tidak memiliki hitungan yang pasti; tapi saya bisa memperkirakan bahwa bloggers di Indonesia yang menggunakan Inggris sebagai bahasa utama blognya, prosentase sangat sedikit. Banyak strategi guna mendulang uang lewat blog, antara lain dengan menyediakan template blog content yang “disulap menjadi support” dengan google adsense sebagai program periklanan paling popular. Ini kreatifitas. Para usernya pun sudah bisa merasakan manisnya dollar dari blog adsense-nya dengan content yang sudah ready for use. Saya pernah mendapatkan tawaran semacam itu. Namun sampai hari ini belum meng-iyakan apalagi menjalankannya. Mungkin suatu saat.

Sahabat saya punya cerita katanya sudah pernah memasuki angka 800-dollar dari ngeblog dengan content yang ready for use program adsense. Tapi, dia tidak tahu mengapa dibanned, dia tidak tahu alasannya mengapa. Mungkin sudah dijelaskan oleh pihak google, tapi dia tidak mampu memahami statementnya yang menggunakan bahasa Inggris. Mengapa? Karena Indonesia adalah bahasa sahabat saya yang asli, bukan bahasa Inggris. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, bahwa pihak google tidak harus secara transparan menjelaskan mengapa harus nge-banned sebuah blog?

Untuk Mas Ali Fahrudin di Belakang Unsoed, keep going with google adsense earning. Terima kasih buat Mas Ecko. Postingannya tentang skenario curang meningkatkan earning google adsense sebanyak 6 artikel saya simpan sebagai dokumen penting.

Demikian semoga bermanfaat. Pada salah satu postingan ke depan, saya ingin menggunakan bahasa Banyumasan, untuk memperkenalkan kultur, tradisi, budaya dan pariwisatanya. Tapi yaaaa tidak melulu memakai bahasa ngapak.

Incoming search terms for the article: