Learn To Earn Is The Reason Why I am Blogging
Simpemdes
Ratusan Kepala Desa di Kabupaten Cilacap (27/7) secara serentak mengembalikan seperangkat Komputer yang merupakan realisasi dari program Simpemdes (Sistem Informasi Manajemen Pemerintahan Desa). Ini merupakan cara protes yang tidak lazim sebenarnya, tetapi tetap ditempuh, meskipun akhirnya para kepala Desa harus membawa pulang kembali seperangkat Komputer tersebut.
Program Simpemdes Pemkab Cilacap semenjak awal memang sudah bermasalah dan mengalami kejanggalan. Program ini top-down sifatnya. Tidak muncul dalam Musrenbang Desa sampai dengan Musrenbang Kabupaten. Karena top-down, ada kesan dipaksakan dan pemerintah desa tidak mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk menolaknya.
Dana Simpemdes diambilkan dari Alokasi Dana Desa (ADD) 2008 sebesar 100 juta rupiah per desa direalisasikan sebesar 48 juta rupiah untuk pengadaan seperangkat Komputer, printer, meja, LCD Monitor, UPS dan Software Simpemdes berlisensi. Nalar kita akan mudah menjangkau bahwa pengadaan seperangkat komputer Simpemdes plus pelatihan SDM perangkat desa terkait dengan program tersebut dengan budget 48 juta rupiah per desa sebenarnya sudah terlalu mewah untuk ukuran satu paket program. Itu di satu sisi.
Di sisi lain, pos-pos kegiatan di masing-masing desa –operasional kegiatan dan pembangunan fisik– yang seharusnya bisa diealisasikan programnya tahun 2008 dengan dana dari ADD harus tertunda sampai ke tahun berikutnya, karena ADD 2008 turun sebesar 50% sementara 50% lainnya “diwajibkan” untuk mendukung program Simpemdes.
Program Simpemdes ini memang bertujuan baik dalam rangka memaksimalkan pelayanan publik sampai tingkat desa dengan memanfaatkan tehnologi elektronik/komputer. Bahwa komputerisasi pelayanan publik dan administrasi kepemerintahan desa sudah saatnya ada di setiap Balai Desa.
Semasa masih menjadi anggota BPD (waktu itu masih Badan Perwakilan Desa), penulis bersama Kepala Desa setempat mampu mengalokasikan dana guna pengadaan seperangkat komputer lengkap. Persoalan SDM memang menjadi kendala di sini. Namun bisa ditangani dengan adanya niat dan kemauan untuk belajar mengoperasikan komputer. Belajar bersama-pun ditempuh sampai kemudian bisa melayani masyarakat dan mendukung administrasi pemerintahan desa, sampai hari ini, meskipun tanpa Software Simpemdes.
Persoalan SDM dalam program Simpemdes jauh lebih rumit tentunya, karena harus beradaptasi dengan Software Simpemdes yang built-in. Paket pelatihan SDM perangkat desa dalam program Simpemdes semestinya bisa menghasilkan operator komputer yang siap pakai untuk melayani masyarakat dan pengadministrasian kegiatan pemerintah desa. Tapi, dengan hanya 2 kali pelatihan saya kira belum cukup mahir untuk mengoperasikannya tanpa mengenal basik pengoperasian komputer pada umumnya.
Karena persoalan penguasaan program dari operator yang masih belum maksimal, maka Simpemdes belum bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Paket komputer simpemdes bahkan ada yang nganggur (karena rusak atau memang di-anggur-kan), kemudian penyelesaian administrasi pemerintahan desa kembali lagi menggunakan Mesin Ketik.
Sejauh yang saya pahami, paket program Simpemdes belum mengarah pada pengadaan prangkat yang diperlukan guna menjangkau jaringan internet sampai ke pelosok desa. Simpemdes masih sebatas untuk memaksimalkan pengadministrasian kegiatan pemerintahan yang berlangsung di desa. Dan itupun belum terlaksanan sebagaimana mestinya karena program Simpemdes justeru bermasalah di tengah jalan.
Tingkat permasalahnnya semakin akut menyerupai benang kusut yang semakin sulit diurai. Dugaan penyelewengan, penyalahgunaan dan korupsi dana Simpemdes sudah masuk wilayah hukum dengan menyeret salah satu tersangka yang sudah ditahan. Kasus ini melengkapi carut-marutnya pemerintah Kabupaten Cilacap dengan berbagai kasus yang sedang terjadi.
Kita bisa memahami mengapa para Kepala Desa melakukan aksi mengembalikan komputer tersebut. Sebagai bagian dari warga masyarakat Kabupaten Cilacap, kita mencoba untuk mengerti tindakan tersebut, karena mereka memiliki alasan tersendiri; mereka tentu tidak mau terlibat dan tidak mau dikorbankan dalam kasus Simpemdes yang top-down ini.
PS: Tulisan versi media massa untuk posting ini bisa dilihat Di Sini.
Related posts:
- E-Government Pemerintah Kabupaten Cilacap
- Blogging Offline Dengan Localhost Wordpress
- Cilacap Yang Terkoyak
- Mencoba Online Dengan SMART HC-D1200P
- Fenomena Ponari dan Kegagalan Program Indonesia Sehat 2010
- VCC Murah Mudah Untuk Account Paypal
- Menuju Kabupaten Cilacap Barat
- Pertamina Dan Penjual Bensin Eceran
- Polling Dan Survey Pilpres
- Teroris Tertangkap Di Cilacap
| This entry was posted by Munawar AM on August 3, 2009 at 5:49 PM, and is filed under Kampung Halaman. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |




about 7 months ago
Salut utk protes yg dilakukan para kepala desa di Cilacap. ini sebagai wujud kendali atas penggunaan uang rakyat oleh pengambil kebijakan di pemerintahan. semoga benang kusut simpemdes ini segera terurai dan para pihak yg terlibat segera diproses sesuai jalur hukum.
about 7 months ago
ikut setuju dengan aksi protesnya itu
about 7 months ago
mustine diajari dulu gitu….
about 7 months ago
kita ikut mendukung demi kemakmuran bangsa sendiri.
about 7 months ago
Lho kang Nawar ini orang Cilacap ya?
————
@albri: betul Mas…. Asli.
about 6 months ago
Uang segitu kalau dibelikan pancing semua, terus orang-orang pada disuruh mancing bareng di teluk penyu aku yakin bisa memecahkan rekor muri untuk cilacap.
————–
@Mas Waris/Tukang Mancing: sampun katah niku ingkang masuk MURI, termasuk Egrang Massal, nggih napa mboten?
about 6 months ago
E…………, mbok bade nambah malih. wong kula senenge mancing nggih idene mancing bareng paling banyak, terus mangke iwake dibakar bareng-bareng, nyambel kecap bareng terus didahar bareng-bareng, kayane semanger banget tur bergisi tinggi.
about 1 month ago
SEBUAH TEROBOSAN UNTUK NEGERI
Software Birokrasi Maya v1.0 memuat informasi tentang biodata
penduduk yang bermukim dalam wilayah Desa / Kelurahan. Informasi
tersebut disimpan sebagai arsip desa berupa data penduduk. Kebanyakan
arsip-arsip tersebut saat ini masih dikerjakan secara manual dan
tersusun dalam kumpulan buku yang banyak.
Anda dapat memeperoleh Software Birokrasi Maya v1.0 secara
GRATIS! di: http://birokrasimaya.com