Bupati Cilacap Probo Yulastoro menolak silaturahmi Idul Fitri Wakil Bupati Tatto Suwarto Pamudji di Lembaga Pemasyarakatan Cilacap. Ini  berita dan kasus yang sangat memprihatinkan; karena terjadi di saat semua umat Islam menjalin tali silaturrahmi Idul Fitri. Ini juga merupakan kasus yang tidak semestinya karena bisa menjadi preseden yang kurang baik di saat kondisi pemerintah daerah Kabupaten Cilacap, Kampung Halaman Saya,  sedang mengalami krisis kepemimpinan. Sebagai bagian dari warga Cilacap, saya sangat menyayangkan tentunya, karena ini bukan teladan yang baik.

Yang memulai untuk menjalin silaturrahmi tentu memiliki alasan, setidaknya ada niat baik di dalamnya. Sementara yang menolak untuk bertemu dan menolak untuk menemui juga memiliki alasan sendiri  yang hanya dia yang tahu. Kita hanya bisa meraba dan menduga; bahwa sejak Bupati Cilacap Ditahan Karena Dugaan Kasus Korupsi sampai hari ini, disharmoni antara Bupati dan Wakil Bupati Cilacap masih terjadi, bahkan secara ukhuwah basyariah dan ukhuwah islamiyah masih ada gap yang ternyata belum selesai melalui momentum silaturahmi Idul Fitri. Semoga hal itu tidak terjadi di wilayah di mana Sahabat Blogger semua tinggal.

Silaturrahmi seharusnya merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh umat manusia. Sebab prinsip dasar silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan (kekeluargaan) adalah kesatuan kemanusiaan (unity of humanity) dalam wujudnya yang paling awal sebagai berasal dari satu pasangan keluarga, makhluk Allah SWT yang bernama Adam dan Hawa. Jika kemudian Allah SWT menciptakan umat manusia ke dalam berbagai macam suku dan bangsa, sesuatu yang by design membuka peluang keterputusan dan keterpecahan secara kekeluargaan, prinsip dasar kesatuan kemanusiaan tersebut tetap ada dan tidak hilang.

Bahkan dikuatkan pula dengan perintah untuk saling mengenal (li ta’arofuu) antar sesama manusia yang berbeda suku, bangsa, ras golongan, pangkat atau jabatan, pejabat atau rakyat jelata dan berbagai latar belakang lainnya. Itu sebabnya, sebagai bagian dari ajaran Islam, silaturrahmi menjadi bersifat universal yang melintasi batas dan sekat kemanusiaan, sungguhpun antar sesama manusia itu berbeda pandangan politik dan agama misalnya.

Ada saat dimana kesatuan kemanusiaan itu terputus dan terpecah oleh berbagai macam kepentingan. Termasuk di dalamnya kepentingan politik. Ini yang kemudian melahirkan istilah silaturahmi politik yang lazim ditempuh oleh sejumlah elite bangsa di Jakarta seusai Idul Fitri. Lepas maupun terkait dengan silaturahmi politik tersebut, yang jelas, di dalamnya ada nuansa untuk mengembalikan semangat kesatuan kemanusiaan –melalui momentum Idul Fitri– atau setidaknya hendak mengembalikan pentingnya kesatuan bangsa, meski saart dengan nuansa kepentingan pribadi dan golongan.

Apakah silaturrahmi Wakil Bupati Cilacap di atas masuk dalam kategori silaturahmi politik antar penguasa Kabupaten Cilacap? Tergantung darisudut pandang mana kita melihat. Saya lebih cenderung untuk tidak mengaburkan makna silaturrahmi dengan embel-embel politik. Kita lihat kembali makna silaturahmi berikut ini : “Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian (orang lain), melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus” (HR. Bukhari). Menyambung apa yang telah putus sebagai inti silaturahmi bisa ditempuh, antara lain dengan berkunjung atau membalas kunjungan, atau melalui komunikasi verbal.

Penolakan Silaturahmi Bupati Cilacap ada dalam koridor makna tersebut. Apa kita sebagai warga Cilacap akan mengelak untuk mengatakan bahwa memang di Kabupaten Cilacap telah dan masih terjadi “keterputusan-keterputusan” (komunikasi-hingga kekeluargaan) antar elitnya? Itu artinya, silaturahmi Wakil Bupati Cilacap sebenarnya bisa ditempuh untuk lain waktu di luar Idul Fitri, tidak harus melalui kunjungan formal, melainkan melalui komunikasi-komunikasi yang bisa dibangun lebih lanjut.

Apakah dengan penolakan tersebut berarti komunikasi sudah diputus dan pintu untuk silaturahmi sudah ditutup? Lantas sampai kapan? Untuk membangun Pemerintahan Kabupaten Cilacap, saya yakini masyarakat membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan yang mau dan mampu menunjukan sikap harmonis di hadapan rakyat Kabupaten Cilacap.

Incoming search terms for the article: