DALAM 3 dekade terakhir ini, hampir semua konflik perang melibatkan umat Islam. Maka Barat menyebutnya sebagai era perang muslim. Menurut pengamat Samuel P Huntington (2002), akar masalahnya lebih banyak diakibatkan oleh alasan politik daripada keagamaan. Huntington mengemukakan 4 faktor berikut ini.

  1. Salah satu dari perkembangan politik sosial dan budaya yang paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir ini telah membangkitkan kembali kesadaran, gerakan, dan indentitas umat muslim. Organisasi-organisasi Islam sudah mulai memenuhi kebutuhan muslim perkotaan dalam menyediakan dukungan sosial, bimbingan moral, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan juga pengurangan penganggur. Hampir semua komunitas muslim, umat Islam selalu memosisikan diri sebagai oposan bagi pemerintahan yang represif. Kebangkitan Islam ini pun melahirkan ekstremis yang menjadi sumber rekrutmen untuk gerakan terorisme dan perang gerilya.
  2. Di dunia Islam ada kecenderungan resistensi yang melahirkan kemarahan, kecemburuan dan permusuhan terhadap Barat. Sebagian dari hal itu disebabkan imperialisme dan dominasi Barat terhadap muslim. Lebih jauh lagi, umat muslim kini mulai beraksi menghadapi pemerintahan yang korup, inefektif dan represif di negerinya masing-masing.
  3. Fanatisme kesukuan, etnis dan pembagian politik serta budaya dalam dunia Islam sendiri memicu konflik antarsesama muslim.
  4. Kebangkitan dunia muslim terjadi bersamaan dengan ledakan angka kelahiran di hampir semua komunitas muslim. Hal ini membawa konsekuensi logis peningkatan jumlah penduduk dengan usia produktif. Sebagian di antaranya kaum pria dan berpendidikan tinggi, dan sebagian lain tidak demikian. Mereka inilah yang bermigrasi ke Barat, atau bergabung dengan organisasi fundamentalis-radikal dan partai politik tertentu. Sementara sebagian kecil lainnya terdaftar dalam jaringan terorisme atau gerilyawan muslim. Kalangan muda ini biasanya merupakan pelaku utama kekerasan.

Keempat faktor tersebut merupakan sumber meluasnya kekerasan yang melibatkan umat muslim. Pada dekade 1970-an, dinamika dunia Islam ditandai titik awal terjadinya transformasi dan reorientasi, dan pada tahun-tahun awal abad ke-15 Hijriyyah, Islam berada di tengah gelombang dinamisme baru.

Fenomena ini kemudian dinyatakan sebagai era kebangkitan Islam. Pada tingkatan yang luas, kebangkitan Islam merupakan fenomena penegasan kembali unsur-unsur kelangsungan dan kreativitas di antara dua kutub: modernisme dan tradisi Islam

Realitas Kebangkitan Islam di Di Dunia Modern

Realitas kebangkitan Islam seharusnya tidak cukup hanya diukur dari semakin mengkristalnya konflik dan kekerasan yang melibatkan umat muslim yang dibalut isu terorisme. Seperti kebangkitan dan runtuhnya peradaban-peradaban dunia, demikian juga kebangkitan dan runtuhnya Islam.

Di dalamnya bisa ditemui artefak-artefak terjadinya konflik. Di era neo-imperialisme dan neo-kolonialisme, watak penjajah Barat tampaknya tidak reda begitu saja. Di Barat, meminjam analisis John L Esposito, ada kekhawatiran akan ancaman Islam terhadap Barat.

Di atas semua fakta konflik yang melibatkan umat muslim maupun non-muslim, kebangkitan Islam bukan sekadar wacana. Kebangkitan Islam akhir-akhir ini justru bisa dilihat sebagai keinginan menawarkan bentuk-bentuk baru pemikiran dan lembaga yang secara mendasar telah terkontaminasi oleh modernisasi dan globalisasi.

Sejak dari revolusi Islam Iran sampai ke wilayah Asia Tenggara dan Afrika Barat, seluruh dunia Islam terlihat bergerak aktif. Keyakinan keagamaan yang sebelumnya tidak tercatat, belakangan semakin bermunculan. Keadaan ini mengejutkan dan memunculkan isu-isu besar tentang hakikat kehidupan masa depan masyarakat di dunia modern. Secara evolusioner-adaptasionis, Islam menawarkan pola dan bentuk struktur kehidupan masyarakat.

Analisis lain menyatakan realitas kebangkitan Islam sebagai ada kaitannya dengan perubahan pada arti mendasar politik dan otoritas sosial karena kondisi yang ditimbulkan oleh modernisasi. Di sisi lain, penglihatan tertuju pada kebangkitan Islam sebagai reaksi teologis terhadap implikasi pemikiran dan lembaga tradisional di dunia modern.

Dalam konteks ini, fenomena Islam fundamentalis dan revivalis radikal, seperti halnya fenomena Islam evolusioner adaptasionis, sama-sama sedang bergerak bangkit, mencari dan menawarkan bentuk-bentuk ideal keislaman kepada dunia….. Bersambung DI SINI.

Related posts:

  1. 4 Perspektif Tentang Fenomena Kebangkitan Islam
  2. 101 Tahun Kebangkitan Nasional
  3. Hijrah Di Antara Natal Dan Tahun Baru
  4. Terompet Tahun Baru dan Susu Buat Anakku
  5. Natal Di Antara Dua Tahun Baru
  6. Adakah Perguruan Tinggi Idaman Itu?
  7. Sedikit (Saja) Refleksi Menyambut Pesta Blogger 2008
  8. Blog Baru Dengan Semangat Baru
  9. Hawa Panas Iringi 153 Tahun Kabupaten Cilacap
  10. Membudayakan Blogging (Blog ini Baru Berusia 2 Bulan)